Welcome to Lazuardi Humayyah

Kamis, 12 Desember 2019

Sebatas Terkaan

Aku masih kecil waktu itu
Saat kilat menjadi cambuk sang malam
Pernah suatu hari aku mencoba
Menagih janji dari senja
Keesokan paginya menjelang fajar
Coba ku tanyakan
Bagaimana senja mengkristal hingga berubah menjadi hujan?
Aku masih segan membuat perumpamaan
Masih samar terdengar guruh dilangit luas
Pagi hanya menyisakan semburat debu dijalanan
Aku perlahan tahu
Bahwasanya kilat adalah cambuk malaikat
Menggiring awan seperti pengembala menggiring domba
            Aku tak urung menemukan jawaban
            Antara harapan ataukah keinginan
            Seandainya dimensi bisa ku bodohi
            Aku mungkin lebih memilih menjadi bayi
            Diamnya digoda, tangisnya dimanja
            Aku berharap pada kenyataan
            Nanti suatu saat aku akan menjadi orang baik
            Bukan orang penting, apalagi menjadi orang kaya
            Yang hanya bisa membeli masa depan
                        Sekelibat, didalam bilik ada sesuatu yang berusaha ku terka
                        Seseorang sedang membual
Menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur
Aku larut, dalam diam kemudian berandai
Segelintir tawa menembus gelap diakhir cerita
                        Aku terganggu
                        Ku seka telinga dengan anak jari menukik kedalam
                        Saat aku membuka mata
                        Sial, aku terbangun dari mimpi menjadi seorang anak kecil
                        Otakku liar, aku tidak berani menerka masa depan

Sabtu, 22 Desember 2018

Kuatlah, Rani


Tuhan mempertemuan kita bukan tanpa syarat
Sudah menjadi takdirku
Dipertemukan dengan orang sepertimu
Aku kalut, pikiranku tak tentu
Keraguan yang aku pupuk pada awalnya

Menjadi cambuk dipersimpangan
Lorong yang harusnya kita lewati bersama

Detik ini menjadi rawa yang tak ingin sekalipun ku lihat
Kemudian aku yakin
Cinta tidak serta-merta
Cinta bukan sekedar hati yang merasa benar
Aku tidak bermaksud mengutuk
Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana
Sisi yang paling baik untuk dicermati
Biarlah untuk saat ini hanya bayanganmu saja yang tersisa
Tetapi jika takdir menjawab, nanti suatu hari
Kamu dikembalikan 
Akan ku kaji ulang bagaimana bisa aku menerimamu kembali
Dengan luka yang kau tinggalkan sekarang
Sepertinya aku salah menitipkan cinta
Aku tidak cukup kuat 
Tetapi tidak sepenuhnya lemah
Aku juga baru sadar
Risiko mencintai itu besar
Menahan rasa sakit tanpa tahu bagaimana caranya membalas
Dan memang tidak perlu ada pembalasan
Dalam sebagian munajah
Aku meyakini satu hal
Dia tidak akan mengambilmu dariku
Tanpa menggantikanmu dengan orang yang jauh lebih baik
Aku harus mundur
Jangan perlakukan pilihanmu sepertiku
Maaf, aku tidak bisa memberimu lebih
Rupanya Semesta tidak merestui
Datanglah jika aku adalah rusukmu yang tak genap
Akan ku genapi
Akan aku lengkapi
Lakukan peranmu sendiri, aku pun iya
Kamu hanya dipinjamkan
Bukan sebuah kepemilikan


Surabaya, 22 Desember 2018

Selasa, 31 Juli 2018

Barangkali aku yang salah tempat. Mereka pernah bilang 'dia sering seperti itu, tidak perlu dihiraukan'. Barangkali itu bukan kesalahan tetapi kebiasaan. Terbiasa memperlakukan seseorang 'seenaknya', 'semaunya', 'seperlunya', sebagainya. Bagaimana kebiasaan bisa diubah, jika kebiasaan itu sendiri sering tidak disadari? Mulai menanamkan sikap waspada, bukan menjauh, hanya saja ingin segera berjalan pada sisi yang berbeda. Tidak saling menghancurkan, cuma sedikit berkompromi dengan rasa hormat. Rasa hormat dengan tidak bermaksud menutup rezeki siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Aku tidak memilih ditempatkan di tempat yang sekarang, aku hanya meminta 'tempatkan aku ditempat terbaik'.
Untuk kesekian kalinya, Allah tidak main-main menempatkanku disini, aku pun tidak perlu bermain-main dengan menganggapi ocehan mereka yang tidak memiliki dasar. Alangkah banyaknya pribadi yang justru ingin tampil memukau, dieluh-eluhkan, sampai mereka lupa cara mengasihi.
Kusimpulkan sampai disini, ternyata aku sama sekali tidak salah 'tempat'.

Jumat, 05 Januari 2018

Perempuan yang sedang dalam Pelukan

Teruntuk perempuan yang sedang dalam pelukan. Teruslah mengalah, karena dari dulu mulut orang-orang itu menjelaskan mengalah bukan berarti kalah dan itu adalah benar. Bersikaplah anggun saat kita butuh namun dia enggan. Ikuti apa maunya, siapapun jangan menanam kebencian, asal kalian tahu menyakitkan berpura-pura membenci padahal mulut kita ingin berteriak menyadarkannya jika kita butuh. Jangan menuntut apapun, dia bukan kita begitupun sebaliknya. Nikmati apa yang dia beri dan jangan beri dia apapun yang akan membuatnya enggan untuk kembali. Dia pasti kembali entah sampai kapan. Tunggu, jangan membuat pergerakan yang dia kira akan mengancam kedudukannya. Kita anggun dengan sikap diam yang kita miliki. Jika dia mengira ini permainan, maka bermainlah.
Menunggu bukan hal yang buruk, bersabar bukan hal yang mudah, yakinlah ini hanya sebagian kecil dari aturan permainan yang harus kita ikuti. Terserah berapa milyar kali dia berusaha menyakiti, sadar atau tidak, dia yang kamu butuhkan, beri dia ruang. Mungkin dia tidak bermaksud menyakiti, hanya kita yang menerima permainan itu merasa tersakiti. Sayang, sudut pandang yang dia dan kita miliki tidak dalam satu sumbu. Akhirnya, untuk semua usaha yang kita lakukan untuk membuatnya tetap dekat adalah hal yang bijak.
Ingat, engkau masih tetap sama. Perempuan yang sedang dalam pelukannya.

Jumat, 29 Mei 2015

Salam untuk Bumi

Barangkali itu suara bumi berteriak
Mengaum diinjak-injak
Tuhan titipkan telaga air
Titipkan bebatuan dan tanah
Tempatmu berpulang
Kalian disisakan senja dibarat daya
Aurora di utara
Fajar dipelupuk mata, tapi
Tak kunjung selesai dinikmati
Jangankan bernapas
Matipun merepotkan
Kayu kering jadi peti mati
Gumpalan tanah membalut kembang berduri
Kembalimu tanah
Telah lebur pada makna
Sedang matahari menjulurkan lidah
Seperti anjing lapar
Tapi kau asapi
Pelihara, maka ikuti
Jaga, maka penuhi
Aku terlambat tahu
Ternyata pusat semesta
Singgah dilengan-lengan sekutu
Yang enggan memeluk lakon
Besok lusa, ajaklah ilalang merenung
Kenangkan kepadanya
Untuk sebuah hormat, salam
Untuk bumi
                                                                                                         Herlina Wati

The Seven Ravens

Once upon a time, there lived a good king. He had seven handsome sons but the king and the queen still wanted to have a daughter. A wizard predicted that they would have a daughter when seven ravens cried.
Some day, the king told to his seven handsome sons to get some water from the magic brooks around the kingdom. The sons went quickly because they wanted to get the water soon, but they stop on their way to chat with dwarf so they were too late get the water, that made the king angry with them.
Knowing that the king got very angry and he cursed, “May those lazy sons of mine turned into ravens!”.
Suddenly the handsome prince turned into ravens. They flew far away. Later on, the king had got a daughter, he gave her named Elizabeth. Elizabeth grew up to be a beautiful princess.
One day, there was a small accident, the princess didn’t like her meal because it’s not delicious. So she scolded a servant. The servant also got very angry with her and said, “it was your fault that your brothers turned into ravens”.
Elizabeth was shocked to hear that, she decided to leave the palace to find her brothers. She had gone anywhere but she couldn’t find. Fortunately, a very bright star took a pity on her. She told her to go to the crystal mountain, “here is the key to open a tiny door at the mountain. You will found dwarf and seven ravens there”.
Without any hesitation, she went to the mountain. But when she got the door, she dropped the golden key into the valley, “oh, the key is falling”. She screamed and she couldn’t reach it, she though so hard for while then she decided to use her little finger as the key.
Slowly she opened the door, then she stepped quietly into the cave. Inside, she found a dwarf preparing seven plates with bread crumbs and seven glasses of water. Feeling so hungry and thirsty, Elizabeth ate all the crumbs and drank all water. But she dropped her ring into the last glass. It was ring from her mother.
Suddenly, she heard noises, so she hid her self quickly under a table. It was the seven ravens coming. The ravens looked surprised seeing empty plates and glasses. “Who has eaten bread crumbs for my plate?” one raven quested by him self angrily. “who has drunk out of my glass?” another ravens quested too. “Who puts our mother’s ring in my glass?”.
“It was me, your sister!”. Hearing the voice the seven ravens very astonished. Elizabeth appearing from hiding. “oh, brothers!”. Elizabeth embrace her brothers strongly. Elizabeth tears falling down to the ravens feathers. The raves gradually changed into their original figures handsome princes. She tears had broken the magic spell.
Finally, Elizabeth and her brothers went back to the kingdom. The king and the queen were very happy to see their sons and after that they were living happily in a kingdom.