Welcome to Lazuardi Humayyah

Kamis, 12 Desember 2019

Sebatas Terkaan

Aku masih kecil waktu itu
Saat kilat menjadi cambuk sang malam
Pernah suatu hari aku mencoba
Menagih janji dari senja
Keesokan paginya menjelang fajar
Coba ku tanyakan
Bagaimana senja mengkristal hingga berubah menjadi hujan?
Aku masih segan membuat perumpamaan
Masih samar terdengar guruh dilangit luas
Pagi hanya menyisakan semburat debu dijalanan
Aku perlahan tahu
Bahwasanya kilat adalah cambuk malaikat
Menggiring awan seperti pengembala menggiring domba
            Aku tak urung menemukan jawaban
            Antara harapan ataukah keinginan
            Seandainya dimensi bisa ku bodohi
            Aku mungkin lebih memilih menjadi bayi
            Diamnya digoda, tangisnya dimanja
            Aku berharap pada kenyataan
            Nanti suatu saat aku akan menjadi orang baik
            Bukan orang penting, apalagi menjadi orang kaya
            Yang hanya bisa membeli masa depan
                        Sekelibat, didalam bilik ada sesuatu yang berusaha ku terka
                        Seseorang sedang membual
Menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur
Aku larut, dalam diam kemudian berandai
Segelintir tawa menembus gelap diakhir cerita
                        Aku terganggu
                        Ku seka telinga dengan anak jari menukik kedalam
                        Saat aku membuka mata
                        Sial, aku terbangun dari mimpi menjadi seorang anak kecil
                        Otakku liar, aku tidak berani menerka masa depan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar