Aku
masih kecil waktu itu
Saat
kilat menjadi cambuk sang malam
Pernah
suatu hari aku mencoba
Menagih
janji dari senja
Keesokan
paginya menjelang fajar
Coba
ku tanyakan
Bagaimana
senja mengkristal hingga berubah menjadi hujan?
Aku
masih segan membuat perumpamaan
Masih
samar terdengar guruh dilangit luas
Pagi
hanya menyisakan semburat debu dijalanan
Aku
perlahan tahu
Bahwasanya
kilat adalah cambuk malaikat
Menggiring
awan seperti pengembala menggiring domba
Aku tak urung menemukan jawaban
Antara harapan ataukah keinginan
Seandainya dimensi bisa ku bodohi
Aku mungkin lebih memilih menjadi
bayi
Diamnya digoda, tangisnya dimanja
Aku berharap pada kenyataan
Nanti suatu saat aku akan menjadi
orang baik
Bukan orang penting, apalagi menjadi
orang kaya
Yang hanya bisa membeli masa depan
Sekelibat,
didalam bilik ada sesuatu yang berusaha ku terka
Seseorang
sedang membual
Menceritakan
sebuah dongeng pengantar tidur
Aku
larut, dalam diam kemudian berandai
Segelintir
tawa menembus gelap diakhir cerita
Aku
terganggu
Ku
seka telinga dengan anak jari menukik kedalam
Saat
aku membuka mata
Sial,
aku terbangun dari mimpi menjadi seorang anak kecil
Otakku liar, aku
tidak berani menerka masa depan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar