Welcome to Lazuardi Humayyah

Sabtu, 22 Desember 2018

Kuatlah, Rani


Tuhan mempertemuan kita bukan tanpa syarat
Sudah menjadi takdirku
Dipertemukan dengan orang sepertimu
Aku kalut, pikiranku tak tentu
Keraguan yang aku pupuk pada awalnya

Menjadi cambuk dipersimpangan
Lorong yang harusnya kita lewati bersama

Detik ini menjadi rawa yang tak ingin sekalipun ku lihat
Kemudian aku yakin
Cinta tidak serta-merta
Cinta bukan sekedar hati yang merasa benar
Aku tidak bermaksud mengutuk
Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana
Sisi yang paling baik untuk dicermati
Biarlah untuk saat ini hanya bayanganmu saja yang tersisa
Tetapi jika takdir menjawab, nanti suatu hari
Kamu dikembalikan 
Akan ku kaji ulang bagaimana bisa aku menerimamu kembali
Dengan luka yang kau tinggalkan sekarang
Sepertinya aku salah menitipkan cinta
Aku tidak cukup kuat 
Tetapi tidak sepenuhnya lemah
Aku juga baru sadar
Risiko mencintai itu besar
Menahan rasa sakit tanpa tahu bagaimana caranya membalas
Dan memang tidak perlu ada pembalasan
Dalam sebagian munajah
Aku meyakini satu hal
Dia tidak akan mengambilmu dariku
Tanpa menggantikanmu dengan orang yang jauh lebih baik
Aku harus mundur
Jangan perlakukan pilihanmu sepertiku
Maaf, aku tidak bisa memberimu lebih
Rupanya Semesta tidak merestui
Datanglah jika aku adalah rusukmu yang tak genap
Akan ku genapi
Akan aku lengkapi
Lakukan peranmu sendiri, aku pun iya
Kamu hanya dipinjamkan
Bukan sebuah kepemilikan


Surabaya, 22 Desember 2018

Selasa, 31 Juli 2018

Barangkali aku yang salah tempat. Mereka pernah bilang 'dia sering seperti itu, tidak perlu dihiraukan'. Barangkali itu bukan kesalahan tetapi kebiasaan. Terbiasa memperlakukan seseorang 'seenaknya', 'semaunya', 'seperlunya', sebagainya. Bagaimana kebiasaan bisa diubah, jika kebiasaan itu sendiri sering tidak disadari? Mulai menanamkan sikap waspada, bukan menjauh, hanya saja ingin segera berjalan pada sisi yang berbeda. Tidak saling menghancurkan, cuma sedikit berkompromi dengan rasa hormat. Rasa hormat dengan tidak bermaksud menutup rezeki siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Aku tidak memilih ditempatkan di tempat yang sekarang, aku hanya meminta 'tempatkan aku ditempat terbaik'.
Untuk kesekian kalinya, Allah tidak main-main menempatkanku disini, aku pun tidak perlu bermain-main dengan menganggapi ocehan mereka yang tidak memiliki dasar. Alangkah banyaknya pribadi yang justru ingin tampil memukau, dieluh-eluhkan, sampai mereka lupa cara mengasihi.
Kusimpulkan sampai disini, ternyata aku sama sekali tidak salah 'tempat'.

Jumat, 05 Januari 2018

Perempuan yang sedang dalam Pelukan

Teruntuk perempuan yang sedang dalam pelukan. Teruslah mengalah, karena dari dulu mulut orang-orang itu menjelaskan mengalah bukan berarti kalah dan itu adalah benar. Bersikaplah anggun saat kita butuh namun dia enggan. Ikuti apa maunya, siapapun jangan menanam kebencian, asal kalian tahu menyakitkan berpura-pura membenci padahal mulut kita ingin berteriak menyadarkannya jika kita butuh. Jangan menuntut apapun, dia bukan kita begitupun sebaliknya. Nikmati apa yang dia beri dan jangan beri dia apapun yang akan membuatnya enggan untuk kembali. Dia pasti kembali entah sampai kapan. Tunggu, jangan membuat pergerakan yang dia kira akan mengancam kedudukannya. Kita anggun dengan sikap diam yang kita miliki. Jika dia mengira ini permainan, maka bermainlah.
Menunggu bukan hal yang buruk, bersabar bukan hal yang mudah, yakinlah ini hanya sebagian kecil dari aturan permainan yang harus kita ikuti. Terserah berapa milyar kali dia berusaha menyakiti, sadar atau tidak, dia yang kamu butuhkan, beri dia ruang. Mungkin dia tidak bermaksud menyakiti, hanya kita yang menerima permainan itu merasa tersakiti. Sayang, sudut pandang yang dia dan kita miliki tidak dalam satu sumbu. Akhirnya, untuk semua usaha yang kita lakukan untuk membuatnya tetap dekat adalah hal yang bijak.
Ingat, engkau masih tetap sama. Perempuan yang sedang dalam pelukannya.